Secara umum, metode
geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode pasif dan aktif. Metode
pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode
aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang
dilakukan oleh bumi. Medan alami yang dimaksud disini misalnya radiasi
gelombang gempa bumi, medan gravitasi bumi, medan magnetik bumi, medan listrik
dan elektromagnetik bumi serta radiasi radioaktivitas bumi. Medan buatan dapat
berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman
sinyal radar dan lain sebagainya. Keadaan eksplorasi dibumi ini menghasilkan
banyak logam, seperti yang dijelaskan Qs-ar rad:17 yang berbunyi :
”
Allah telah
menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah
menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa
(logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada
(pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan
(bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu
yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia
tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”
Secara umum metode yang
di gunakan dalam dunia geofisika adalah :
III.1 Metode
Seismik/Resistivity
Gambar 3.1 ilustrasi survey metode seismik
Metode ini
juga memiliki kelemahan mengingat survey seismik umumnya dilakukan dalam skala
besar. Sehingga akan membutuhkan teknologi, biaya, waktu, dan tenaga yang
relatif besar. Kegiatan survey seismik dapat dikelompokkan menjadi 3 serangkaian tahapan yaitu :
1. Akuisisi Data Seismik
Akuisisi data seismik tidak lain adalah tahapan pengukuran guna mendapatkan
data seismik yang berrkualitas. Data seismik yang diperoleh dari tahapan ini
akan mempengaruhi data seismik selanjutnya. Sehingga dengan data yang baik akan
memperoleh hasil pengolahan yang baik pula, dan akhirnya dapat di lakukan
interpretasi yang akurat. Survey seismik dapat dilakukan didarat maupun dilaut.
2. Pengolahan Data Seismik
Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data
seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismi kemudian dapat
dilakukan interpretasi. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik adalah untuk
menghasilkan penampang seismik dengan kualitas yang baik tanpa mengubah bentuk
kenampakan lapisan bawah permukaan.
3.
Interpretasi Data Seismik
Dari pengolahan
data seismik , hasilnya yang berupa penampang seismik kemudian di
interpretasikan. Tujuan dari interpretasi seismik adalah menggali dan mengolah
berbagai informasi geologi dibawah permukaan dari penampang seismik.
Dalam metode
seismik dikenal dua metode yaitu:
·
Metode seismik pantul
·
Metode seismik bias
III.2 Metode
Gravitasi
Metode
Gravitasi adalah salah satu metode dalam survey geofisika untuk
mengetahuikondisi struktur permukaan berdasarkan variasi medan gravitasi,
dimana metode ini metode pasif. Metode ini memanfaatkan perbedaan nilai
medangravitasi di permukaan bumi. Variasi medan gravitasi dipermukaan pun dapat
dipengaruhi oleh adanya struktur geologi dibawah permukaan, termasuk tidak
meratanya kondisi tofografi permukaan bumi. Sehingga posisi pengamatan juga
memiliki pengaruh terhadap pengukuran.metode ini dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya struktur geologi, batuan dasar (basement), kontak intrusi
batuan beku/magma, rongga dalam massa batuan, endapan sungai purba, logam
terpendam, dll. Metode ini memiliki sensitifitasi tinggi terhadap perubahan
vertikal.
Teknologi pengukuran
gravitasi menggunakan alat Gravitymeter, yang memiliki komponen utama berupa
pegas dengan kontruksi tertentu. Pengukurannya di lapangan, biasanya dilakukan
pada titik-titik pengukuran di sepanjang lintasan pengukuran dalam suatu luasan
area pengukuran. Biasanya juga diperlukan satu titik acuan yang bebas gangguan/noise
(base station) yang akan digunakan sebagai unsur koreksi dalam analisa data
(koreksi drift). Selain pengukuran di darat, pengukuran juga dapat
dilakukan di laut dengan kapal, maupun di udara dengan pesawat.
Gambar 3.2
survey dengan metode gravitasi
III.3 Metode
Magnetik
Metode ini adalah salah satu metode
di geofisika yang memanfaatkan sifat kemagnetan bumi. Mengunakan metode ini di
perlukan ketelitian karena metode ini hanya mampu membaca batuan dibawah
permukaan bumi arah horizontal. Dalam survey ini diperlukan alat yang paling
utama yaitu magnetometer dan alat pendukung lainnya yaitu GPS.
Dalam
survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari pengukuran adalah
variasi medan magnetik yang terukur di permukaan (anomali magnetik). Pada pengukuran
geomagnetik, peralatan paling utama yang digunakan adalah magnetometer.
Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat medan magnetik di lokasi survei.
Salah satu jenisnya adalah Proton Precission Magnetometer (PPM) yang
digunakan untuk mengukur nilai kuat medan magnetik total. Peralatan lain yang
bersifat pendukung di dalam survei magnetik adalah Global Positioning
System (GPS). Peralatan ini digunakan untuk mengukur posisi titik
pengukuran yang meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS ini dalam
penentuan posisi suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit. Penggunaan
sinyal satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang sangat luas dan
tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.
Dari
data yang diperoleh maka data di olah
pertama pengaksesan data IGRF (data IGRF merupaka data yang diperoleh pada
setiap stasiun), pengolahan data geomagnetik, reduksi kebidang data, pegangkata
keatas, koreksi efek regional, terakhir menginterpretasi data geomagnetik.
Gambar III.3 survey geomagnet
III.4 Metode
Geolistrik
Metode geolistrik merupakan salah
satu metode dalam survey geofisika yang memanfaatkan perbedaan sifat
kelistrikan berupa hambatan-jenis dalam batuan. Berdasarkan sumber energinya,
sebenarnya metode geolistrik dapat diklasifikasikan lagi, menjadi :
1. Geolistrik Aktif (berdasarkan sumber energi
buatan);
- IP (Induced
Potential)
- Geolistrik resistivitas sounding
- Geolistrik resistivitas mapping
- Geoelectrical borehole tomography
- Mise a
la masse
2. Geolistrik Pasif (berdasarkan sumber energi alami
bumi);
- SP (Spontaneous
Potential)
Batuan, sebagai suatu
medium juga memiliki sifat resistivitas, yang beragam sesuai dengan jenis-jenis
batuan. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat
resistivitas batuan tersebut, dengan metode geofisika ini kemudian dapat
disediliki bagaimana kondisi geologis bawah permukaan. Variasi resistivitas
batuan tersebut tergantung pada jenis batuan dan mineral, porositas batuan,
kandungan fluida dalam pori-pori batuan (dapat berupa minyak bumi, gas, atau
air).
Pengukuran resistivitas
dilakukan dengan instrumen berupa Resistivitymeter sebagai unit utamanya,
dilengkapi oleh beberapa perangkat penunjang seperti batang-batang elektroda,
kabel-kabel penghubung, sumber daya listrik (battery/accu), dll.
Prinsip pengukuran geolistrik resistivitas ini pada dasarnya cukup sederhana.
Dalam penerapannya,
metode ini digunakan dalam eksplorasi di beberapa bidang. Umumnya dimanfaatkan
untuk mengetahui struktur bawah permukaan dan stratigrafi, untuk mengetahui
sebaran endapan mineral tambang, untuk mengetahui lapisan akuifer dan muka air
tanah, untuk mengetahui akumulasi minyak bumi di lapisan dangkal dan kontak
fluida antara minyak dan air, untuk mengetahui reservoar geothermal, dan bahkan
untuk mengetahui keberadaan candi terpendam.
Dalam metode
ini digunakan beberapa aturan antara lain :
·
Metode schlumberger
·
Metode pole-dipole
· Metode dipole-dipole
·
Metode gradien
·
Metode wenner
Gambar III.2
Pengukuran geolistrik dilapangan
III.5 Metode
Radar
Metode georadar
merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari kondisi bawah permukaan
berdasarkan sifat elektromagnetik dengan menggunakan gelombang radio dengan
frekuensi antara 1-1000 MHz. Georadar menggunakan gelombang elektromagnet dan
memanfaatkan sifat radiasinya yang memperlihatkan refleksi seperti pada metode
seismik refleksi. Pengukuran dengan menggunakan GPR ini merupakan metode yang
tepat untuk mendeteksi benda benda kecil yang berada di dekat permukaan bumi
(0,1-3 meter).
GPR terdiri
dari sebuah pembangkit sinyal, antena transmitter dan receiver sebagai
pendeteksi gelombang EM yang dipantulkan. Signal radar ditransmisikan sebagai
pulsa-pulsa yang tidak terabsorbsi oleh bumi tetapi dipantulkan dalam domain
waktu tertentu. Mode konfigurasi antena transmitter dan receiver pada GPR
terdiri dari mode monostatik dan bistatik. Mode monostatik yaitu bila
transmitter dan receiver digabung dalam satu antena. sedangkan moded bistatik
bila kedua antena memiliki jarak pemisah. Transmitter membangkitkan pulsa
gelombang EM pada frekuensi tertentu sesuai dengan karaketristik antena
tersebut (10 MHz – 4 GHz). Receiver diset untuk melakukan scan yang secara
normal mancapi 32-512 scan per detik. Setiap hasil scan ditampilkan pada layar
monitor (real-time) sebagai fungsi waktu two-way traveltime, yaitu waktu yang
dibutuhkan gelombang EM menjalar dari transmitter, target dan ke
receiver. Tampilan ini disebut radargram.
Pada
alat ini terdapat kelebihan yaitu Biaya operasional lebih
murah, esolusi yang sangat tinggi karena menggunakan frekuensi tinggi (broadband
atau wideband), Pengoperasian yang cukup mudah, merupakan metoda non
destructive sehingga aman digunakan. Namun alat ini juga memiliki
kekurangan yaitu tidak bisa melakukan penetrasi / deteksi sedalam gelombang
bunyi, Kemampuan radar hanya puluhan meter (kurang lebih 100 meter), Antena GPR
umum hanya untuk durasi pulsa tertentu.
Gambar
III.4 Survey Georadar
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,2013,GeofisikadanMetodeMetodenya,http://geophypalace.blogspot.co.id/2013/12/geofisika-dan-metode-metodenya.html
,diakses pada tanggal 02-April-2016 pada pukul 20.35 WITA
Anonim,2015,metodedalamgeofisika,http://ahmadlegowo.blogspot.co.id/p/geofisika-adalah-metoda-yang.html
, diakses pada tanggal 02-April-2016 pada pukul 20.46 WITA
Santoso, Djoko, (2002), Pengantar Teknik Geofisika,
Bandung : ITB.













0 komentar:
Posting Komentar